Kamis, 30 April 2015

Laporan Pembuatan Tempe Kedelai

       I.            JUDUL                         : PEMBUATAN TEMPE KEDELAI
             II.TUJUAN                              : MEMBUAT TEMPE DENGAN MENGGUNAKAN JAMUR              RHIZOPUS  ORYZAE
 III.            HARI/ TANGGAL      : JUM’AT/ 10 APRIL 2015
 IV.            NAMA/STAMBUK      : WA ODE IRMA SARTIKA/A1C2 13 056

    V.            Latar Belakang

      Kedelai atau Glycine max (L) Merr termasuk familia Leguminoceae, sub famili Papilionaceae, genus Glycine max, berasal dari jenis kedelai liar yang disebut Glycine unriensis. Secara fisik setiap kedelai berbeda dalam hal warna, ukuran dan komposisi kimianya. Perbedaan secara fisik dan kimia tersebut dipengaruhi oleh varietas dan kondisi dimana kedelai tersebut dibudidayakan (Ketaren, 1986).
      Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Tempe umumnya dibuat secara tradisional dan 7 merupakan sumber protein nabati. Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh. Hal ini dikarenakan kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia (Kasmidjo, 1990).
      Ciri tempe yang “berhasil” adalah ada lapisan putih di sekitar kedelai dan pada saat di potong, tempe tidak hancur. Perlu diperhatikan agar tempe berhasil, menjaga kebersihan pada saat membuat tempe ini sangat diperlukan 0 karena fermentasi tempe hanya terjadi pada lingkungan yang higienis. Gangguan pada pembuatan tempe diantaranya adalah tempe tetap basah, jamur tumbuh kurang baik, tempe berbau busuk, ada bercak hitam dipermukaan tempe, dan jamur hanya tumbuh baik di salah satu tempat.
      Secara definitif zat pengemulsi (emulsifier) disebut sebagai senyawa yang mempunyai aktivitas permukaan (surface-active agents) sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan (surface tension) antara udara-cairan dan cairan-cairan yang terdapat dalam suatu sistem pangan. Kemampuannya 17 menurunkan tegangan permukaan menjadi hal menarik karena emulsifier memiliki keajaiban struktur kimia yang mampu menyatukan dua senyawa berbeda polaritasnya (Hartomo, 1993).

 VI.            Metode Praktikum
A.    Alat dan Bahan
1.        Alat
No.
Alat
Fungsi
1.
Baskom
Untuk menyimpan kedelai
2.
Saringan
Untuk menyaring kulit ari kedelai yang telah dikupas
3.
Dandang/panci
Untuk memasak kedelai
4.
Timbangan
Untuk mengetahui berat kedelai dan ragi
5.
Thermometer
Untuk mengukur suhu ruangan pada saat fermentasi
6.
Daun pisang
Untuk mendinginkan kedelai yang telah direbus
7.
Kompor
Untuk memasak kedelai

2.      Bahan
a.         Kacang kedelai
b.        Ragi tempe
c.         Plastik
B.     Prosedur Kerja
1.             Membersihkan kacang kedelai dari kotoran kemudian cuci hingga bersih
2.             Merendam kedelai yang telah dibersihkan selama 12-18 jam
3.             Merebus kedelai yang telah direndam selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang.
4.             Setelah itu tiriskan dan dinginkan
5.             Kedelai di kupas/lepaskan kulit biji kedelai yang telah lunak, cuci lalu bilas dengan air bersih
6.             Merebus kembal;I biji kedelai tersebut sampai empuk
7.             Meniriskan biji kedelai pada daun hingga dingin
8.             Menaburkan ragi tempe yang telah disiapkan sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk supaya merata (1,5 gram ragi tempe untuk 2 Kg kacang kedelai)
9.             Selanjutnya membungkus dengan mengngunakan kantung plastik atau daun pisang. Bila menggunakan kantung plastic maka diberi lubang-lubang kecil pada kantung denngan menggunakan lidi atau jarum.
10.         Menyusun bungkusan pada tempat yang rata dengan suhu kamar 38-400C dan tempat yang gelap selama satu atau dua hari hingga seluruh permukaan kacang kedelai tertutupi oleh jamur.
VII.            Hasil dan Pembahasan
A.    Hasil
No.
Hari ke-
Suhu ruangan 0C
Warna
Aroma
1.
1
300 C
Putih
Bau kacang kedelai
2.
2
280 C
Putih
Bau kacang kedelai
3.
3
280 C
Putih kekuningan
Bau ragi

B.     Pembahasan
     Tempe merupakan makanan hasil fermentasi tradisional berbahan baku kedelai dengan bantuan jamur Rhizopus oryzae. Mempunyai ciri-ciri berwarna putih, tekstur kompak dan flavor spesifik. Warna putih disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kedelai. Tekstur yang kompak juga disebabkan oleh miselia-miselia jamur yang menghubungkan antara biji-biji kedelai tersebut. Terjadinya degradasi komponen-komponen dalam kedelai dapat menyebabkan terbentuknya flavor spesifik setelah fermentasi.
Proses pembuatan tempe melibatkan tiga faktor pendukung, yaitu bahan baku yang dipakai (kedelai), mikroorganisme (kapang tempe), dan keadaan lingkungan tumbuh (suhu, pH, dan kelembaban). Dalam proses fermentasi tempe kedelai, substrat yang digunakan adalah biji kedelai yang telah direbus dan mikroorganisme yang digunakan berupa kapang antara lain Rhizopus olygosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer dan lingkungan pendukung yang terdiri dari suhu 30˚C.
Tiga tahapan penting dalam pembuatan tempe yaitu (1) hidrasi dan pengasaman biji kedelai dengan direndam beberapa lama antara 12-18 jam, (2) pemanasan biji kedelai, yaitu dengan perebusan atau pengukusan dan (3) fermentasi oleh jamur tempe yang banyak digunakan ialah Rhizopus oryzae.
Pada akhir fermentasi, kedelai akan terikat kompak. Proses penempelan akan menghilangkan flavour asli kedelai, mensintesis vitamin B12, meningkatkan kualitas protein dan ketersediaan zat besi dari bahan.
Ciri tempe yang “berhasil” adalah ada lapisan putih di sekitar kedelai dan pada saat di potong, tempe tidak hancur. Perlu diperhatikan agar tempe berhasil, menjaga kebersihan pada saat membuat tempe ini sangat diperlukan  karena fermentasi tempe hanya terjadi pada lingkungan yang higienis. Gangguan pada pembuatan tempe diantaranya adalah tempe tetap basah, jamur tumbuh kurang baik, tempe berbau busuk, ada bercak hitam dipermukaan tempe, dan jamur hanya tumbuh baik di salah satu tempat.
Proses penyortiran bertujuan untuk memperoleh produk tempe yang berkualitas, yaitu memilih biji kedelai yang bagus dan padat berisi. Biasanya di dalam biji kedelai tercampur kotoran seperti pasir atau biji yang keriput dan keropos. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang melekat maupun tercampur di antara biji kedelai .
Perebusan bertujuan untuk melunakkan biji kedelai dan memudahkan dalam pengupasan kulit serta bertujuan untuk menonaktifkan tripsin inhibitor yang ada dalam biji kedelai. Selain itu perebusan I ini bertujuan untuk mengurangi bau langu dari kedelai dan dengan perebusan akan membunuh bakteri yang yang kemungkinan tumbuh selama perendaman. Perebusan dilakukan selama 30 menit atau ditandai dengan mudah terkelupasnya kulit kedelai jika ditekan dengan jari tangan.
Perendaman bertujuan untuk melunakkan biji dan mencegah pertumbuhan bakteri pembusuk selama fermentasi. Ketika perendaman, pada kulit biji kedelai telah berlangsung proses fermentasi oleh bakteri yang terdapat di air terutama oleh bakteri asam laktat. Perendaman juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada keping-keping kedelai menyerap air sehingga menjamin pertumbuhan kapang menjadi optimum. Keadaan ini tidak mempengaruhi pertumbuhan kapang tetapi mencegah berkembangnya bakteri yang tidak diinginkan. Perendaman ini dapat menggunakan air biasa yang dilakukan selama 12-16 jam pada suhu kamar (25-30˚C).
Penaburan ragi secara merata bertujuan agar jamur berkembang dengan baik dalam proses fermentasi, apabila penaburan ragi tidak merata maka tempe tidak akan ditumbuhi oleh jamur karena tidak ada madia dalam proses fermentasi dan akan dihasilkan tempe yang gagal.
Pengemasan bertujuan agar tempe tidak kering dan sebagai tempat berkembangnya mikroba,kemudian fungsi pemberian lubang agar ada sirkuasi udara karena dalam pembuatan tempe menggunakan jamur yang dapat berkembang pada tempat yang lembab.
VIII.            Penutup
a.         Kesimpulan
1.             Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae.
2.             Ciri tempe yang “berhasil” adalah ada lapisan putih di sekitar kedelai dan pada saat di potong, tempe tidak hancur. Perlu diperhatikan agar tempe berhasil, menjaga kebersihan pada saat membuat tempe ini sangat diperlukan 10 karena fermentasi tempe hanya terjadi pada lingkungan yang higienis.
b.        Saran
Sebaiknya diadakan pembagian asisten pembimbing untuk setiap kelompok agar praktikanlebih terarah pada saat konsultasi.
DAFTAR PUSTAKA
Kasmidjo, R.B., 1990. TEMPE : Mikrobiologi dan Kimia Pengolahan serta Pemanfaatannya. PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta.
Ketaren, S., 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press, Jakarta.
Hartomo, A.J. dan M.C. Widiatmoko, 1993. Emulsi dan Pangan Instant
BerLesitin. Andi Offset, Yogyakarta.
















LAMPIRAN
Perebusan I
           
Pengupasan Kulit Ari
Perebusan II


Pendinginan dan Pengeringan
           
Penaburan Ragi
           
Pengemasan dan Hasil Fermentasi
            


1 komentar: